Siapa yang tidak ingin hidup senang atau
bahagia? Tentu kita semua berharap bahwa kita hidup dengan diliputi
dengan kebahagiaan, kesenangan yang tentu akan membuat hidup kita ini
lebih berarti dan punya makna.
Dapat dibayangkan jika kita hidup dalam
kondisi yang sebaliknya, hidup kita diliputi dengan derita, kesedihan,
kesusahan tiada tara, tentu hidup ini hanya semakin menyesakkan dada
kita saja.
Namun siapa kira, jika kesenangan yang kita damba-dambakan ternyata berujung petaka. Dan siapa kira justru kesedihan penderitaan hidup yang kita alami justru menjadi bahan bakar yang cukup ampuh untuk merubah jalan nasib yang kita punya kedepannya.
Namun siapa kira, jika kesenangan yang kita damba-dambakan ternyata berujung petaka. Dan siapa kira justru kesedihan penderitaan hidup yang kita alami justru menjadi bahan bakar yang cukup ampuh untuk merubah jalan nasib yang kita punya kedepannya.
Banyak orang merasa bangga dan lupa diri
ketika mendapatkan sedikit nikmat dari cita-citanya, padahal mungkin apa
yang ia rasakan barulah kulit luarnya saja. Tetapi karena teramat
senangnya, maka ia pun menjadi lupa akan tujuan utamanya. Karena
kulitnya yang indah, maka kita pun lupa akan daging buahnya. Karena
teramat bahagianya, kita pun lupa dan hanya membangga-banggakan apa yang
ada didepan mata, tetapi kita justru terlupa bagaimana cara kita
menjalani heri berikutnya.
Betapa tidak kita lihat bangsa kita ini, di
era tahun 70-an masyarakat dari negara tetangga banyak yang belajar di
negara kita. Namun saat ini, justru negara kitalah yang menjadi
tertinggal kualitas pendidikannya dari negara tetangga. Bisa jadi kita
dahulu terlalu merasa bangga dan lupa diri, pada akhirnya kita sendiri
yang jatuh dalam ketertinggalan dari “mantan” murid kita.
Betapa banyak generasi muda sekarang yang
justru bangga akan status dan harta kekayaan orang tuanya. Tetapi ia
sendiri justru lupa, apa yang bisa dibanggakan dari dalam dirinya. Ia
hanya bisa bercerita bangga hasil karya keluarga dan sanak sauaranya,
tapi ia selalu akan terdiam dan menunduk malu ketika ditanya hasil jerih
payahnya.
Berhati-hatilah, jangan samapai kita semua
menjadi bagian dari golongan orang-orang yang cepat puas dan mudah lupa
diri. Kebahagiaan bukanlah akhir dari sebuah cita-cita yang kita kejar
dan kita punya, namun kebahagiaan akan lebih berarti jika kita maknai
sebagai bahan bakar tambahan untuk mewujudkan cita-cita kita
selanjutnya.
Di Tulis Oleh:
AMR_DICS
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan Kasih Komentar ®
U Comment || I Follow ®
Backlink Gratis »» Gunakan opsi "Name/Url" untuk memasukkan 'Nama' dan 'url' anda.
* Masukkan 'url' diawali http://
* Url boleh kosong »» ®