You Reading → riana-helmi-mahasiswa-termuda-ugm.html

Monday, June 21, 2010

riana-helmi-mahasiswa-termuda-ugm.html

ni adalah contoh anak muda yang harus ditiru!!!

Usianya baru 14 tahun lebih tiga bulan
. Dengan usia seperti itu, Riana Helmi mestinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), atau paling tidak, kelas satu sekolah menengah atas (SMA). Gadis lulusan SMA III Sukabumi ini memang masih “anak baru gede” (ABG) tetapi dia adalah mahasiswa termuda sepanjang sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Gadis berkacamata ini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2005/2006.

Riana putrid pertama pasangan Ajun Komisaris Polisi (AKP) Helmi S.H. (staf pengajar Sekolah Calon Perwira Polri Sukabumi) dan Rofi’ah (wiraswasta) masuk UGM melalui jalur penelusuran bakat skolastik (PBS), yaitu jalur khusus hasil seleksi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Meski masih muda, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh gadis berwajah imut tersebut, membuktikan bahwa memiliki kemampuan lebih dibanding anak sebayanya. Dengan tangkas, remaja kelahiran Aceh 22 Maret 1991 ini menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya, mulai dari pertanyaan soal riwayat hidup, masak, hobi, hingga seputar masalah Aceh. Semua dijawab dengan ringkas dan jelas.

Bercerita soal perjalanan sekolahnya, Riana yang saat itu mengenakan kerudung warna putih dan dipadu jaket almamater UGM, mengaku bersyukur diterima di Fakultas Kedokteran UGM yang selama ini diimpikannya. Alasan pilihan jurusan yang diinginkan juga cukup simple, “Anak kecil juga kalau ditanya banyak yang bercita-cita jadi dokter. Kesan itu yang terus ada dalam hati saya. Syukur Alhamdulilah akhirnnya kesampaian gitu,” tuturnya.

Riana masuk sekolah dasar (SD) pada usia empat tahun. Karena masih muda itu, pada awalnya dia hanya dianggap sebagai “anak bawang”. Sekolah dasar diselesaikannya di SD Ciwaringin 4, kemudian pindah sekolah, karena ayahnya pindah tugas. Akhirnya, dia menamatkan sekolah di SD Sriwedari, Sukabumi. Ketika SMP dan SMA , dia mengikuti program akselerasi atau percepatan. Masing-masing jenjang ditempuhnya selama 2 tahun.

“awal masuk SD sebagai ‘anak bawang’, tetapi bisa mengikuti pelajaran, jadi jalan terus. Kalau SMP dua tahun itu enak, bisa ngirit waktu. Masuk SMA juga ikut program akselerasi, sehingga bisa selesai cepat,” tuturnya.

Berbeda dengan anak seusianya yang senang bermain, Riana lulusan SMPN 1 Sukabumi tahun 2003, lebih senang belajar dan membaca buku ketimbang bermain. Sejak SD, dia sudah menyukai pelajaran matematika dan mengaku malas jika belajar secara hafalan, apalagi menggambar. “Daripada hafalan, lebih baik eksak, lebih suka yang pasti-pasti,” kata Riana yang selalu menjadi yang paling kecil dikelasnya.

Dianggap sebagai anak paling kecil dia tidak merasa kecil hati. Anak sulung dari tiga bersaudara itu merasa senang. Justru karena umurnya yang masih muda itu banyak yang ingin berteman dengan dia.

Dalam menjalani kehidupannya, Riana yang mengaku biasa saja bisa diterima di UGM, kadang masih seperti anak-anak, tetapi kadang merasa dewasa. Perasaan itu dialami ketika bicara dengan teman seusianya, karena apa yang dibicarakannya kadang tidak nyambung.

Riana juga layaknya remaja lainnya, sesekali membaca novel Harry Potter, dan novel Islam. Bahkan, dia juga ikut nimbrung menonton AFI (Akademi Fantasi Indosiar) kendati tidak begitu memfavoritkan salah satu peserta AFI. Dia beralasan karena semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan.

Seiring dengan semangatnya menuntut ilmu, Riana yang bercita-cita menjadi dokter ahli kandungan ini mengaku lebih mementingkan kuliah, dibanding kuliah sembari pacaran. ” yang ada dalam pikiran saya saat ini adalah terus belajar dan lulus. Saya tidak ingin pacaran. Kalau bisa langsung nikah saja,” ujarnya sembari tersenyum.

Hal lain yang masih menjadi impiannya adalah belajar memasak. ”Saya kan disini kos, jadi harus bisa masak. Kalau masak sendiri kan enak, ” tutur Riana yang ditunggui ibunya selama menjalani orientasi pengenalan kampus (ospek).

Ada satu keinginan lainnya yang belum tercapai, yakni belum memilki Surat Izin Mengemudi (SIM). Usianya yang belum 17 tahun tidak memungkinkan dia memiliki kartu tanda penduduk (KTP) apalagi SIM. Identitas yang dia kantongi hanya kartu mahasiswa yang dikeluarkan UGM. ”kan Riana belum umur 17. jadi belum punya KTP dan SIM. Kalau mau pergi kemana-mana lebih banyak jalan kaki atau diantar. Kalau soal kuliah insya Allah lancar,” ungkap Riana.

                                                                                  http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:SHDoWWsKU-OZwM:http://furbo.org/wp-content/uploads/2007/08/coda_icon.jpg

Related Posts



0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Kasih Komentar ®
U Comment || I Follow ®

Backlink Gratis »» Gunakan opsi "Name/Url" untuk memasukkan 'Nama' dan 'url' anda.
* Masukkan 'url' diawali http://
* Url boleh kosong »» ®

 
 
Copyright © 2011 alonemisery
Powered by Blogger | Design by kesmas